
Mazmur 39:1
“Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku...”
Apa yang paling mudah terpancing? Lidah. Jika kita diajak memukuli orang, merampok, membeli barang curian, mungkin kita akan berpikir seribu kali sebelum terpancing ajakan itu. Tetapi kalau lidah dipancing untuk berbuat dosa, alangkah cepatnya kita lepas kendali. Lepas kendali ini terjadi ketika kita diajak untuk membicarakankejelekan orang lain atau juga ketika hati kita dilukai. Ketika hidup terasa berat kita pun mudah berkeluh kesah dengan lidah, bahkan terkadang ketika kita sedang terlampau senang, lidah kita membicarakan hal-hal yang mungkin kita sesali kemudian hari.
Pemazmur menyampaikan suatu hal yang sangat penting: menjaga diri-yang dapat juga kita pahami sebagai menyadari diri. Banyak orang di zaman modern ini tidak lagi menyadari dirinya, tidak menyadari apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya. Saking cepatnya segala sesuatu berlalu, manusia tidak punya waktu untuk mengamati dirinya. Modal utama agar kita dapat selalu menjaga diri ada dua hal. Pertama, kesadaran bahwa orang 'fasik' selalu ada di sekitar kita, mengintai dan mencari kesalahan kita untuk menjadikannya senjata untuk melawan kita; dan kedua, hidup ini hanya sementara dan sangat singkat, setiap kesempatan yang ada sebaiknya diisi dengan hal-hal yang kita lakukan dengan sadar, bukan karena terpancing orang lain atau emosi pribadi.
Youth, di zaman serba cepat dan semakin cepat ini, sebagian orang semakin menyadari perlunya melambatkan diri dan menyadari diri. Itulah mengapa praktik-praktik meditasi menjadi trend. Kita pun dituntut juga untuk menjaga diri kita, bukan karena trend tetapi agar kita menjadi berkat dan bukan menjadi batu sandungan.
Pertanyaan untuk Anda:
Apa yang biasanya membuat Anda hilang kendali atas lidah?
Bagaimana Anda dapat lebih mampu mengendalikan lidah?
“Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku...”
Apa yang paling mudah terpancing? Lidah. Jika kita diajak memukuli orang, merampok, membeli barang curian, mungkin kita akan berpikir seribu kali sebelum terpancing ajakan itu. Tetapi kalau lidah dipancing untuk berbuat dosa, alangkah cepatnya kita lepas kendali. Lepas kendali ini terjadi ketika kita diajak untuk membicarakankejelekan orang lain atau juga ketika hati kita dilukai. Ketika hidup terasa berat kita pun mudah berkeluh kesah dengan lidah, bahkan terkadang ketika kita sedang terlampau senang, lidah kita membicarakan hal-hal yang mungkin kita sesali kemudian hari.
Pemazmur menyampaikan suatu hal yang sangat penting: menjaga diri-yang dapat juga kita pahami sebagai menyadari diri. Banyak orang di zaman modern ini tidak lagi menyadari dirinya, tidak menyadari apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya. Saking cepatnya segala sesuatu berlalu, manusia tidak punya waktu untuk mengamati dirinya. Modal utama agar kita dapat selalu menjaga diri ada dua hal. Pertama, kesadaran bahwa orang 'fasik' selalu ada di sekitar kita, mengintai dan mencari kesalahan kita untuk menjadikannya senjata untuk melawan kita; dan kedua, hidup ini hanya sementara dan sangat singkat, setiap kesempatan yang ada sebaiknya diisi dengan hal-hal yang kita lakukan dengan sadar, bukan karena terpancing orang lain atau emosi pribadi.
Youth, di zaman serba cepat dan semakin cepat ini, sebagian orang semakin menyadari perlunya melambatkan diri dan menyadari diri. Itulah mengapa praktik-praktik meditasi menjadi trend. Kita pun dituntut juga untuk menjaga diri kita, bukan karena trend tetapi agar kita menjadi berkat dan bukan menjadi batu sandungan.
Pertanyaan untuk Anda:
Apa yang biasanya membuat Anda hilang kendali atas lidah?
Bagaimana Anda dapat lebih mampu mengendalikan lidah?


Poskan Komentar
Isi dong komentarmu!