Sandy Sasmita

Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang. Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Matius 6:15

Ini kisah persahabatan dua manusia. Yang seorang adalah putra presiden, yang lain pemuda rakyat jelata bernama Pono. Persahabatan ini sudah terjalin sejak mereka di bangku sekolah. Pono punya kebiasaan yang terkadang menjengkelkan. Apapun peristiwa yang terjadi di depannya selalu dianggap positif. “Itu baik!” katanya senantiasa.

Hari itu seperti yang sering mereka lakukan, Pono menemani temannya berburu. Tugasnya membawa senapan dan mengisi peluru agar selalu siap digunakan. Entah kenapa barangkali belum terkunci secara sempurna, setelah diserahkan kepada temannya senapan itu meletus. Akbiatnya cukup fatal. Ibu jari putra presiden terkena terjangan peluru dan putus. Melihat itu tanpa sadar dengan tenangnya Pono berkomentar, “Itu baik!” Kontan sahabatnya naik pitam. “Bagaiman kau ini! Jempolku putus tertembak, malah dibilang baik. Brengsek!” Agaknya, kali ini kelakuan Pono tak termaafkan. Ia dijebloskan ke penjara.

Beberapa bulan kemudian, sang putra presiden kembali berburu ke Afrika. Malang, ia tersesat di hutan lebat dan ditangkap suku primitf yang masih kanibal. Malam harinya, dalam keadaan terikat ia akann dibakar untuk disantap ramai-ramai. Anehnya, mendadak ia dibebaskan. Belakangan ketahuan, suku tersebut pantang memangsa makhluk yang organ tubuhnya tidak lengkap.

Nasib baik itu membuat sang putra presiden termenung. Ia teringat kembali peristiwa ketika jempolnya putus tertembak lantaran ulah Pono. Ia kemudian menemui Pono dipenjara. “Ternyata kau benar. Ada baiknya jempolku tertembak,” katanya sambil menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya di Afrika. “Aku menyesal telah memenjarakanmu.”

“Oh, tidak! Bagiku ini baik!”

“Bagaimamna kau ini? Memenjarakan teman kau bilang baik?”

“Kalau aku tidak dipenjara, pasti saat itu aku bersamamu.”


Dengan demikian, kita seharusnya memiliki pikiran yang selalu positif dan tidak menaruh dendam pada siapa pun. Sesulit apapun kita dapat mengampuninya. Dan jangan lupa, setiap masalah yang kita hadapi adalah rencana Tuhan yang sangat indah bagi hidup kita.



Sandy Sasmita

Ibrani 10:24

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.


Profesi motivator semakin populer akhir-akhir ini. Melalui ceramah, pelatihan, atau penulisan buku, seorang motivator menginspirasi dan membantu orang lain untuk menjadi lebih “Oke” dalam bidang karier atau bahkan kehidupannya secara menyeluruh. Motivator biasanya memberikan insight dan semangat agar seseorang semakin terdorong untuk mengadakan perubahan diri dalam rangka mengejar impiannya. Tampaknya kehadiran motivator semakin dibutuhkan. Indikasinya, semakin banyak acara yang melibatkan motivator dan semakin laku buku atau karya audio visual si motivator. Slogan-slogan yang memotivasi juga semakin populer, seperti: “Kita pasti bisa!”, “Kit yang terbaik!”, dan sebagainya...

Penulis surat ibrani juga mengajak jemaat untuk “saling mendorong dalam kasih”. Urusan memotivasi orang lain bukan urusan motivator saja. Setiap orang dalam jemaat adalah motivator bagi orang lain. Mendorong, memotivasi orang lain, adalah bagian dari kehidupan baru dalam Kristus, hidup yang sudah dikuduskan, dikhususkan bagi Kristus (ayat 19). orientasinya bukan pada diri sendiri, melainkan pada orang lain, setiap orang didorong untuk memotivasi orang lain. Tentu orientasi ini berbeda dengan dorongan untuk mengikuti pelatihan motivasi pada masa kini, yang biasanya berorientasi pada kepentingan pribadi atau diri sendiri. Jemaat justru didorong untuk dengan kasih memotivasi orang lain.

Hidup dalam Kristus ditandai oleh kemauan kita untuk memotivasi orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik dalam Kristus. Jadi, doronglah orang lain dengan menegaskan, “Ayo, kamu pasti bisa!” Kitalah motivator-motivator karya kasih Tuhan agar orang lain dan kita turut diubahkan oleh kasih Tuhan.