Sandy Sasmita

"Bukankah manusia lebih berharga daripada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." (Matius 12:12)


Manusia itu adalah makhluk budaya. Apa yang dihasilkan kita dan menjadi sebuah nilai yang hidup dalam masyarakat adalah budaya. Jelas apa yang kita lakukan menentukan budaya kita. Budaya tidak statis, ia terus berkembang, kemajuan teknologi, arus globalisasi membawa pengaruh dalam perkembangan budaya.
Yang menjadi pekerjaan rumah kita adalah menyadari bahwa kebiasaan yang kita lakukan, gaya hidup kita, menentukan budaya kita. Karena itu kita dituntut untuk hidup dalam kebiasaan yang baik, gaya hidup yang baik. Mari kita lihat hidup kita, sudahkah kita hidup dan dibesarkan dalam budaya yang baik?
Yesus semasa hidupNya sebagai manusia tidak sekedar menjalani apa yang menjadi tradisi dan kebiasaanNya. Ia mengkritisi budaya di mana Ia hidup. Bagi orang Yahudi, tradisi yang berlaku adalah tidak boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat, namun Yesus beberapa kali menyembuhkan orang pada hari Sabat. Kita melihat bagaimana Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya di hari Sabat. Bagi Yesus yang lebih penting adalah menolong sesama, bukan sekedar memelihara tradisi. Saat orang Farisi memprotes murid-murid Yesus yang memetik bulir gandum di hari Sabat, Yesus pun tidak mempersalahkan bahkan membela murid-muridNya.
Yesus menjadi sosok yang hidup dalam tradisiNya namun tidak sekedar mengikuti tradisi. Dalam perjalanan hidupNya, Ia selalu berupaya untuk mengkritisi tradisiNya.
Jadi, kita contoh yang Tuhan Yesus lakukan. Kita harus mengkritisi setiap tradisi yang berlaku dalam masyarakat kita. Kita harus melihat apakah budaya yang kita hidupi dalam keseharian kita mencerminkan nilai-nilai Kristus.